Rabu, 19 Oktober 2011

penyakit radang ginjal

 Radang ginjal atau Glomerulonefritis adalah jenis penyakit ginjal yang merusak ginjal. Ginjal mengalami masalah untuk membuang dan menyaring limbah sehingga mengakibatkan kelebihan cairan dalam tubuh. Rusaknya ginjal berakibat pada sel darah, zat putih telur bercampur dengan air seni. Hal ini kemudian berimbas pada urin penderita. Penderita terkadang kesulitan kencing atau sebaliknya sering buang air kecil.

Radang ginjal dapat disebabkan oleh infeksi (bakteri atau virus), pengaruh penyakit lain (tekanan darah tinggi, diabetes, atau gagal ginjal kronis).

Gejala
Gejala umum penderita radang ginjal antara lain:
- perasaan lemah
- mudah lelah
- kurang bergairah
- mual
- muntah
- tidak nafsu makan
- kurang atau malah sering buang air kecil.
- urin berbusa

Pengobatan
Pengobatan tergantung pada tingkat keparahan penyakit, penyebab, serta gejala. Selain itu, radang ginjal juga dapat dicegah dengan cara mengatur pola hidup sehat, mengurangi mengkonsumsi kopi, alkohol dan rokok serta memperbanyak minum air putih.
 
Erni, seorang mahasiswi di kota Palembang sejak dua minggu ini mengeluh setiap bangun tidur kelompak matanya selalu sembab. Ia juga merasakan sakit di bagian tengkuk dan buang air kecilnya pun berkurang dengan warna agak kemerah-merahan serta badan juga bengkak-bengkak. Apakah ia terkena radang ginjal ?
Menurut Dr Zulkhair Ali, spd K-GH dari RSMH Palembang, keluhan seperti ini besar kemungkinan Erni terkena radang ginjal (glomerulunefritis). Penyakit ini terjadi karena adanya endapan kompleks imun di membran ginjal sehingga terjadi kebocoran sel-sel darah merah dan protein yang keluar di dalam urine.
“Endapan kompleks imun tadi bisa disebabkan oleh infeksi tenggorakan dan kulit yang terus berulang. Jika sudah terjadi hal ini, perlu diwaspadai. Periksakan segera diri ke dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut,”katanya dibincangi koran ini di RSMH Palembang, kemarin.
Sedangkan bengkak badan yang muncul, sambungnya ramah, karena terjadi kerusakan pada glomerulus suatu kapiler halus di ginjal. Glomerulus ini dilalui darah 1700 liter/hari untuk proses pembersihan. “Pada orang sehat, dinding kapiler glomerulus berfungsi sebagai filter/barier, yang secara diskriminatif menyaring darah sehingga hanya bahan-bahan dengan ukuran dan muatan listrik tertentu dapat melalui filter ini. Antara laian air, elektrolit, berbagai bahan “sampah” hasil metabolisme tubuh dan protein dalam jumlah sedikit (<1500 mg/hari). Pada penyakit GN, terjadi kerusakan pada dinding glomerulus sehingga berbagai bahan dapat lolos yang seharusnya tidak. Protein khususnya albumin bocor melalui filter ini melebihi 3,5 g/hari,”jelasnya lagi.
Akibatnya, masih dijelaskan Zulher-panggilan akrabnya, albumin darah turun yang disertai penahan natrium dan air di tubuh. Secara umum, bila kadar albumin darah turun dibawah 3 g/dl, maka berpotensi mengeluarkan air dari pembuluh darah dan masuk ke jaringan, sehingga muncul bengkak di tungkai, kelopak mata, dan ruangan tubuh lain.
“Akibat lainnya adalah berubahnya metabolisme lipid/lemak pada tubuh sehingga kadar kolesterol meningkat. Kolesterol ini akan menambah masalah pada pembuluh darah termasuk proses kerusakan di glomerulus. Protein yang bocor dari glomerulus akan mengalir melalui pipa tubulus (masih dalam ginjal) yang juga akan menambah kerusakan pada jaringan sekitar tubulus. Ini adalah penyakit yang menyerang alat saringan ginjal (glomerulus) disebut penyakit Glomerulonefritis (GN) yang cukup serius karena berada dalam kondisi yang disebut sindroma nefrotik,”paparnya.
Dalam hal ini, pemerikasaan protein dan sedimen urine sangat penting. Urine 24 jam diperiksa untuk fungsi ginjal (klirens kreatinin, jumlah proteinuria). Selanjutnya berbagai pemeriksaan darah rutin sampai yang khusus (dipilih sesuai kemungkinan dugaan penyakit tertentu). Seperti protein darah, profil lemak darah, elektrolit, komplomen, ASTO. Imunoglobulin, ANF, Antis DNA, ANCA dsb. Pemeriksaan lain yang diperluakan adalah biopsy ginjal.
Jaringan ginjal diperiksa dibawah mikroskop biasa, imunofluoresen dan mikroskop electron. Pemeriksaan ini akan menentukan lokasi, tingkat kerusakan ginjal, diagnosa jenis penyakit GN serta prognosa (ramalan ilmiah tentang nasib penyakit dan pasiennya), pada beberapa pasien pemeriksaan ultrasonografi ginjal;bermanfaat untuk mengetahui sebab-sebab lain, mengetahui ukuran ginjal dan ketebalan jaringannya. Bila menipis berarti sudah stadium lanjut.
Pemeriksan pasien penyakit GN harus tertuju kepada penetapan apakah penyakit GN ini merupakan penyakit lokal pad ginjal (primer) ataukah akibat penyakit umum (sistematik) pada sistematik dsb. Penyakit sistemik dicari melalui rangkaian data-data masa lalu dan keluarga ditambah dengan berbagai pemeriksaan termasuk pemeriksaan laboratorium. Penyakit GN yang primer antara lain Lesi minimal, Glomerulosklerosis Fokal Segmental, GN Membranosa, Nefropati igA dsb. Setiap penyakit itu mempunyai perjalanan penyakit dan prognosa yang berlainan
Dengan tersedianya berbagai strategi pengobatan disamping obat-obatan yang sudah ada, maka ada kemungkinan untuk memperbaiki kelainan yang ada, menekan proteinurua, menghilangkan bengkak, meningkatkan fungus ginjal, termasuk kemungkinan sembuh total. (*)

0 komentar:

Poskan Komentar