Senin, 10 Oktober 2011

penyakit tetelo

BAHWA VIRUS penyakit yang ayam atau wabah telah ditemukan antara tentu tidak dapat dimungkiri karena diagnosis ditegakkan lewat pemeriksaan laboratorium canggih BPMSOH. Meski demikian, menyimak perangai (epidemiologi) lapangan makin meluas, masih perlu disidik lanjut jalan memeriksa lebih banyak sakit mati mengirimkan spesimen beberapa laboratorium.
Kecurigaan adanya peran virus lain dalam wabah ini muncul karena beberapa kelompok ayam yang terserang telah mempunyai kekebalan (HI antibody) cukup, berdasarkan pemeriksaan laboratorium.
Beberapa tenaga teknis peternakan di Bali dan Jawa Timur mensinyalir peran virus lain selain ND, antara lain virus influenza unggas atau avian influenza (AI), meskipun dugaan itu belum didukung pemeriksaan laboratorium.
Kemungkinan peranan virus selain ND dan AI, termasuk virus penyakit baru (new emerging disease), memang harus tetap dibuka sejauh didukung pengamatan lapangan dan peneguhan laboratorium.
Sementara beberapa laboratorium penyakit hewan: Balitvet (Bogor), BPPV Yogyakarta, dan BPPV Denpasar, masih menyidik penyebab wabah penyakit ayam, marilah mengenal sekilas penyakit tetelo dan influenza unggas (AI).
Tetelo?
Tetelo merupakan penyakit ayam yang sangat merugikan, pertama kali ditemukan oleh Kraneveld di Jakarta (1926). Setahun kemudian, virus tetelo ditemukan juga di Newcastle (Inggris). Sejak saat itu, penyakit ini dikenal sebagai newcastle disease (ND) dan ditemukan di berbagai penjuru dunia. Di India, penyakit ini dikenal dengan nama aanikhet. Virus ND termasuk dalam genus Rubulavirus, famili Paramyxoviridae.
Tidak semua virus ND yang ditemukan bersifat ganas. Beberapa di antaranya hanya bersifat ringan, bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bibit vaksin untuk mencegah penyakit ND yang ganas.
Mengingat virus ND ada yang ringan dan ganas, ditentukan empat kelompok keganasan virus ND: velogenik (sangat ganas), mesogenik (sedang), lentogenik (ringan), dengan cara menghitung waktu kematian rata-rata (mean death time) pada telur berembrio yang ditulari virus ND.
Di luar kategori di atas, ditemukan virus ND avirulent (tidak menimbulkan gejala apa pun pada ayam).
Maka, kebanyakan vaksin aktif menggunakan virus ND lentogenik, sebagian kecil menggunakan galur mesogenik dan avirulent. Yang menarik, galur avirulent V4 yang ditemukan di Australia (1967) pernah diuji coba sebagai vaksin pada ayam kampung di Indonesia dan beberapa negara ASEAN dengan pemberian lewat makanan (per os).
Cara lain untuk menentukan keganasan virus ND adalah dengan menghitung indeks keganasan intra serebral (intracerebral pathogenecity index/ ICPI) dan indeks keganasan intra vena (intravenous pathogenicity index/IVPI), menggunakan ayam specific pathogen free (SPF).
Di Indonesia, berbagai jenis vaksin ND tersedia dalam jumlah cukup, baik yang diproduksi dalam negeri maupun impor. Para peternak ayam umumnya paham bahwa mereka harus memvaksinasi ayam secara teratur terhadap ND, di samping penyakit lain.
Satu hal yang masih jarang dilakukan peternak ayam adalah memantau hasil vaksinasi ND. Dengan mengirimkan sampel darah 2-3 minggu setelah vaksinasi ke laboratorium, peternak akan mengetahui apakah vaksinasi berhasil menimbulkan kekebalan atau belum. Kendala seperti rantai dingin pengiriman vaksin dapat mempengaruhi kualitas vaksin.
Laboratorium BPPV yang tersebar di tujuh tempat (Medan, Bukittinggi, Lampung, Yogyakarta, Denpasar, Banjarbaru, dan Makassar) di Indonesia mampu menguji tingkat kekebalan pascavaksinasi ND. Pengujian ini hanya memakan waktu beberapa jam, dengan biaya ringan pula. Sayang, keberadaan laboratorium di atas belum dimanfaatkan secara optimal oleh para peternak.
Meskipun ND dilaporkan dapat menular ke manusia, masyarakat tidak perlu khawatir karena umumnya hanya terjadi apabila tertular oleh virus dalam konsentrasi tinggi, seperti di laboratorium.
Gejala yang timbul akibat virus ND hanya berupa konjungtivitis ringan. Penulis, karena pernah beberapa tahun bekerja di laboratorium virologi, pernah mempunyai zat kebal ND dalam darah. Artinya, pernah tertular virus ND, namun tidak merasakan sakit.
Influenza unggas?
Seperti halnya virus ND, virus AI mempunyai banyak tingkat keganasan mulai dari yang sangat ganas (highly pathogenic avian influenza/HPAI) sampai yang ringan. Virus AI termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Virus AI yang menyerang unggas termasuk dalam tipe A virus influenza.
Ada dua struktur pada lapis permukaan virus AI, yakni haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N), yang ikut menentukan galur (strain) virus AI. Dari komponen H ditemukan 15 tipe (H1-15), sedangkan dari N ada 9 tipe (N1-9). Galur virus AI yang ganas umumnya dari komponen H5 atau H7.
Penentuan keganasan virus AI dilakukan dengan jalan menyuntikkan isolat virus AI pada ayam SPF. Di Amerika, virus AI digolongkan ganas apabila membunuh 75 persen atau lebih ayam yang ditulari, sedangkan di Eropa menggunakan IVPI, dinyatakan ganas apabila indeks di atas 1,2.
Salah satu unggas yang merupakan sumber penular virus AI adalah itik liar. Itik dapat membawa virus AI tanpa menderita sakit, tetapi virus tersebut dapat menimbulkan kematian pada ayam.
Gejala klinik ayam terserang virus AI antara lain berupa mati mendadak, pembengkakan kepala, keluar ingus, dan warna biru pada bagian tubuh yang sedikit bulunya. Gejala ini tidak dapat dipakai sebagai patokan diagnosis karena dapat keliru dengan penyakit lain. Penegakan diagnosis harus lewat isolasi dan identifikasi virus di laboratorium.
Teknik isolasi virus AI mirip dengan virus ND, yakni melalui inokulasi telur berembrio. Teknik ini telah dikuasai Laboratorium BPPV, Balitvet, ataupun BPMSOH. Kendala yang dihadapi laboratorium untuk identifikasi virus AI adalah mendapatkan serum positif AI, terutama serum yang monospesifik untuk menentukan subtipe virus AI.
Apabila tidak tersedia serum AI monospesifik, isolat virus dapat dikirim ke laboratorium rujukan yang ditunjuk oleh Office International des Epizooties (OIE), yakni Laboratorium Kesehatan Hewan di Geelong (Australia), Pusat Laboratorium Virologi di Weybridge (Inggris), Pusat Penyakit Hewan Nasional, Ames (Amerika), dan Universitas Giesen (Jerman). Sebagai anggota OIE, Indonesia tidak perlu ragu memanfaatkan fasilitas laboratorium rujukan yang ditunjuk.
Dari fakta bahwa tidak ditemukan orang yang bekerja di peternakan ayam yang terserang sakit semacam flu yang parah, bisa disimpulkan, penyakit ayam yang berkecamuk dewasa ini tidak menular ke manusia. Ini berbeda dengan virus flu burung dari subtipe H5N1 yang pernah menghebohkan Hongkong tahun 1999.
Untuk mengatasi wabah AI, para ahli cenderung melakukan stamping out (pemusnahan ayam pada peternakan terserang), dibandingkan dengan tindakan vaksinasi dengan vaksin aktif, karena vaksinasi dinilai dapat mengacaukan pengujian laboratorik. Secara terbatas, vaksin inaktif dipergunakan pada kalkun di Amerika.
Meskipun wabah penyakit ayam menelan korban cukup banyak, pemulihan populasi ayam dapat dicapai dalam tempo relatif cepat setelah penyakit yang mematikan itu dapat diatas
Penyakit New Castle Disease atau biasa dikenal dengan penyakit ‘Tetelo’ menyerang ayam warga. Tak hanya ayam kampung yang terserang penyakit ini, tapi juga menular pada ayam pedaging secara cepat.
Hasan salah seorang warga, kepada wartawan mengatakan, kematian ayam miliknya sudah berlangsung sejak sepekan lalu, dan praktis jumlah ayam peliharaannya terus berkurang. ``Hingga satu kurungan habis,’’ sebutnya.
Ayam yang mati tersebut, memiliki gejala panas-panas dan benjol pada tubuh. Bukan hanya ayam Hasan, ayam tetangganya dan warga lainnyaa juga bernasib sama, mati di musim penghujan.
Sementara itu, drh Lia dari Dinas Peternakan Perikanan Kabupaten HSS membernarkan hal itu, bahwa akhir-akhir ini, terjadi banyak kematian ayam. Bahkan, baru-baru ini, saat mereka turun ke lapangan, juga ditemukan ada ayam yang mati. Setelah dicek, ternyata terkena penyakit Tetelo. ``Serangan Tetelo ini, hampir terjadi di seluruh kecamatan. Ada tiga warga yang sudah melapor ke dinas, tapi ia meyakini jumlah ayam mati se Kabupaten Hulu Sungai Selatan tidak mencapai 1000 ekor,’’ katanya, kepada wartawan kemarin.
Untuk langkah antisipasi penyebaran penyakit yang disebabkan virus ini, dinas sudah melakukan tindakan penanggulangan dan pencegahan. Kandang-kandang unggas telah disemprot dengan disinfektan.
Dari pemeriksaan laboratorium selama ini, ayam yang mati tidak ada yang kena flu burung, tapi hanya kena penyakit Tetelo. Unggas pada musim sekarang, sebut Lia, kerap terserang penyakit ini. Apalagi didukung dengan lingkungan yang tidak bersih dan banyak nyamuk. Upaya pencegahan disajikan dalam matrik.
Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan SDM Perikanan dan Peternakan HSS Saidinoor, menghimbau kepada masyarakat untuk melaporkan kalau ada kematian pada ayamnya. Sehingga dinas dapat melakukan tindakan antisipasi dengan melakukan penyemprotan.
``Karena obatnya tersedia, jadi tidak akan dipungut biaya,’’ tagasnya.
Meskipun terindikasi terkena penyakit Tetelo, ternyata ayam-ayam tersebut dapat saja dimanfaatkan untuk dikonsumsi, asalkan disembelih secara halal dan di masak dengan benar.
Menurut drh Lia, penyakit Tetelo memang menyerang dan menular pada binatang, tapi daging ayam yang terindikasi penyakit tersebut, bisa saja dikonsumsi. ``Yang penting di masak dengan benar,’’ katanya.
Ditambahkan Saidinoor, yang paling bagus itu memasaknya dengan menggoreng, jangan dipanggang, karena pemanggangan biasanya tidak mematangkan daging ayam secara keseluruhan.
Sementara itu, Andi, salah seorang warga mengakui tidak apa-apa memakan ayam yang terkena Tetelo. Menurutnya, yang penting dimasak dengan benar dan disembelih sesuai dengan semestiya agar halal

0 komentar:

Poskan Komentar