Senin, 10 Oktober 2011

penyakit zoonotik

Sekira 60 persen hewan peliharaan dan hewan liar merupakan sumber munculnya penyakit zoonotik yang menyerang manusia.

Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Bambang Sumiarto, penyakit zoonotik yang menyerang hewan dan berpotensi menular ke manusia persentasenya cukup tinggi, hingga 87 persen.

"Hewan apa saja bisa kucing, kera dan sebagainya. Jumlahnya mencapai 60 persen yang berasal dari hewan peliharaan dan hewan liar," kata Bambang di kampus FKH UGM, Yogyakarta, Senin (3/8/2009).

Bambang menjelaskan bahwa penyakit zoonotik bisa disebabkan akibat munculnya virus maupun bakteri. Keduanya jika muncul dan menular ke manusia sama-sama berbahaya bagi kesehatan. Untuk itu gerakan hidup bersih, sehat dengan rajin cuci tangan oleh pemerintah merupakan salah satu langkah tepat untuk meminimalkan munculnya penyakit zoonotik ini.

"50 persen penyakit zoonotik asalnya dari bakteri. Tapi baik virus seperti flu burung atau babi dengan bakteri sama-sama berbahaya," jelasnya.

Sayang, imbuh Bambang, sampai sekarang jumlah dokter hewan di Indonesia masih terbatas jumlahnya sekira 12 ribu orang. Padahal idealnya hingga tahun 2010 depan setidaknya Indonesia harus memiliki 20 ribu dokter hewan agar bisa membantu mengurangi penyebaran virus/bakteri penyakit zoonotik.

"Selain hidup bersih tentu tenaga dokter hewan. Tapi sayangnya saat ini masih kurang karena hanya sekira 12 ribu orang. Idealnya kan 20 ribuan," tutur dia.

Sementara itu, untuk ikut membantu menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan hewan baik hewan kecil atau pun besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM akan meresmikan RS Hewan Prof Soeparwi, 5 Agustus mendatang. Menurut Direktur RS Hewan Soeparwi, Ida Cahayati, rumah sakit hewan terbesar di DIY-Jateng ini nantinya akan melayani penanganan hewan kecil seperti anjing, kucing, unggas dan sebagainya.

"Di samping itu tentu akan ada fasilitas pendukung lain seperti pelayanan vaksinasi, bedah, perawatan rutin, pet shop, rawat inap dan darurat, hingga klinik keliling," terang Ida.
Ecohealth perlu dikembangkan untuk menanggulangi penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonotik) seperti antraks, leptospirosis, rabies, dan flu burung, kata peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Wayan Tunas Artama.

"Ecohealth adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari bagaimana perubahan dalam ekosistem bumi dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Pengembangan disiplin ilmu itu dengan cara menyatukan berbagai pakar," katanya di Yogyakarta, Minggu (27/2).

Menurut dia, pakar yang perlu disatukan untuk menanggulangi penyakit menular dari hewan ke manusia atau zoonotik itu di antaranya dokter, dokter hewan, ahli konservasi, ahli ekologi, ahli ekonomi, ahli sosial, dan ahli perencana.

"Mereka secara komprehensif mempelajari dan memahami bagaimana perubahan ekosistem secara negatif berdampak pada kesehatan manusia dan hewan," katanya.

Ia mengatakan, penanggulangan penyakit zoonotik tidak hanya dari aspek kesehatan manusia, tapi juga perlu memperhatikan faktor dari hewan dan lingkungan. Hal itu penting karena penularan penyakit zoonotik selain kontak langsung dengan hewan, juga disebabkan faktor ekologi, yakni perubahan cuaca, iklim, dan lingkungan.

"Berbagai penyakit zoonotik yang berasal dari hewan itu juga dipengaruhi oleh perubahan cuaca, iklim, dan lingkungan. Kondisi lingkungan tertentu bisa menyebabkan penyebarannya semakin bertambah, yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia," katanya.

Menurut dia, ecohealth mengkaji perubahan lingkungan biologik, fisik, sosial, dan ekonomi, dan menghubungkan perubahan tersebut dengan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

"Di beberapa negara, ecohealth telah dikembangkan dengan melibatkan kerja sama antaruniversitas dengan berbagai bidang disiplin ilmu,

0 komentar:

Poskan Komentar